Cerita berfokus pada dua tetangga dan ibu yang merasa hidup mereka sebagai istri, ibu dan profesional tidak memuaskan. Baru melahirkan dan sedang cuti melahirkan, merasa terisolasi di rumah sementara suaminya sering pergi. Mengalami depresi, merasa kehilangan gairah hidup, dan mulai meragukan pernikahannya, termasuk kemungkinan suaminya berselingkuh.
Kedua wanita ini mulai berbagi keinginan, frustrasi, dan akhirnya mengambil langkah yang mengejutkan mulai mengeksplorasi affair dengan pria lain (seperti delivery guy, petugas perbaikan/maintenance) sebagai cara untuk memulihkan diri mereka, memperjuangkan hasrat, dan mempertanyakan konsep monogami serta peran tradisional sebagai ibu dan istri. Film ini menelanjangi rasa hampa yang bisa muncul ketika ekspektasi sosial (istri ideal, ibu baik, menyeimbangkan pekerjaan dan rumah) tidak sesuai dengan kenyataan. Perasaan terjebak, kehilangan gairah, identitas diri yang memudar muncul kuat.
Alih-alih hanya fokus pada konflik rumah tangga, film ini memberi perhatian besar pada hasrat perempuan dan bagaimana masyarakat/kebutuhan pribadi bisa mengekang keinginan itu. Affair yang muncul bukan sekadar “skandal” tetapi sarana untuk refleksi diri. Dialog antara apa yang diharapkan oleh institusi pernikahan dan apa yang dibutuhkan individu, khususnya perempuan, ditelusuri dengan cara yang agak ringan tapi juga serius.
Florence dengan depresi, Violette dalam fase setelah melahirkan, keduanya menunjukkan beban mental dan emosional menjadi ibu, terutama dalam konteks isolasi dan harapan sosial yang tinggi. Tema ini diolah dengan empati. Ikatan antara Violette dan Florence menjadi pusat kekuatan film — bukan hanya romantika/konflik dengan pasangan, melainkan bagaimana dua perempuan bisa saling mendukung dan melegitimasi pengalaman satu dengan yang lain.
Suasana visualnya hangat, lembut, penuh tonalitas warna yang nyaman, menekankan keintiman dan suasana domestik.Pengaturan kota pinggiran Montreal, apartemen bertetangga yang berbatas dinding, memberi gambaran kehidupan yang terlihat normal tapi bisa terasa rapuh dan terkekang. Pendekatan komedi rom comish dengan elemen erotis affair dengan delivery guy, petugas maintenance tetapi tidak menjadikan affair sebagai sensasi semata, melainkan bagian dari krisis pribadi.
Karine Gonthier Hyndman dan Laurence Leboeuf mendapat pujian untuk chemistry mereka dan kemampuan membangun karakter yang kompleks. Film ini tidak menghakimi, tapi mencoba memahami konflik batin dua wanita dewasa yang sangat manusiawi. Adegan-adegan ringan/jenaka yang muncul di tengah keseriusan memberi ruang bagi penonton untuk ikut merasakan dilema tanpa terbebani. Meski remake, film ini berhasil menempatkan isu seperti depresi, kesehatan mental, seksualitas dalam konteks masa kini sehingga terasa lebih dekat dan relevan. Bahwa beberapa subplot atau karakter selain Violette dan Florence tidak dimaksimalkan.






No comments:
Post a Comment