Friday, September 5, 2025

                                                                              RELAY


film Relay (2024/2025), thriller spionase penuh ketegangan karya David Mackenzie, yang dibintangi Riz Ahmed, Lily James, dan Sam Worthington. Film ini mengikuti Ash, seorang fixer yang menyembunyikan identitasnya dengan komunikasi melalui sistem relay telepon bagi penyandang tunarungu. Ia menjadi penghubung rahasia antara whistleblower dan korporasi, menengahi kasus secara anonim.


Sarah Grant, seorang ilmuwan bioteknologi, meminta bantuannya setelah menemukan dokumen yang menyatakan produk gandum rekayasa genetik miliknya berbahaya. Ash membantu Sarah dengan strategi licik mengatur rute pakai penerbangan dan drop dokumen untuk menghindari pengejaran tim korporat berlatar spionase tinggi.


Nuansa 70-an: Gaya thriller klasik dipadukan dengan teknologi analog mesin tik relay, landline menumbuhkan atmosfer paranoid ala The Conversation dan Blow Out. Visual & Lokasi : Lokal New York ditampilkan mencekam dan nyata, dengan nuansa noir metropolitan. Sinematografi oleh Giles Nuttgens menangkap ketegangan kota secara efektif.


Dialog Efisien: Riz Ahmed tidak berbicara di 30 menit pertama, menggunakan ekspresi dan gestur untuk membangun ketegangan. Sound & Musik Skor Tony Doogan dan lagu-lagu dari berbagai musisi menambah kedalaman atmosferik.


Memukau sebagai Ash memancarkan ketegangan, isolasi, dan kecerdikan tanpa banyak bicara. Menghidupkan karakter Sarah dengan kelemahan dan keteguhan, meski chemistry dengan Ash terkadang terasa kurang organik. Efektif sebagai antagonis korporat, penuh intimidasi dan berbahaya. Film menggali etika, rahasia, dan kekuasaan dalam dunia sains dan bisnis global. Relay sebagai metafora ketidakpastian dalam komunikasi, melawan pengawasan digital espons Kritik & Publik.



                                                                         Nobody 2


Setelah film pertama, Hutch Mansell masih terbentur utang besar kepada organisasi kriminal "The Barber". Ia memutuskan rehat dan merencanakan liburan bersama keluarga ke taman hiburan nostalgia, Wild Bill’s Majestic Midway and Waterpark di Plummerville. Namun konflik dengan preman lokal, pemilik taman, dan sheriff korup bergulir menjadi perang brutal. Hutch akhirnya menarik kembali kekuatan tersembunyinya saat ia harus melindungi keluarga dan menghadapi Lendina, bos kriminal yang diperankan oleh Sharon Stone.


Aksi lebih berwarna dan mencolok dibanding film pertama. Tjahjanto mengganti suasana kelam menjadi lebih cerah dan musim panas dengan koreografi pertarungan yang stylized dan brutal .Musik & Suara Mendukung sensasi aksi dinamis dengan desain suara yang tajam dan musik latar penuh energi .

Bob Odenkirk kembali memerankan Hutch dengan pesona sukar dilepas menyeimbangkan humor gelap dan aksi berdarah. Odenkirk tetap melakukan sebagian besar stunt meski menjaga jarak dari aksi ekstrem karena riwayat serangan jantungnya. Sharon Stone sebagai Lendina memberi dinamika menggelegar villain flamboyan yang membuat klimaks terasa lebih seru. Chemistry antara Hutch dan keluarga juga jadi daya tarik emosional, terutama hubungan dengan Becca (Nielsen) dan saudara Harry.


Konflik antara dunia kekerasan masa lalu Hutch dengan kehidupan domestiknya mencerminkan dilema banyak pria dewasa: tanggung jawab keluarga vs naluri melindungi dengan cara ekstrem .Film ini juga jadi kritik lembut terhadap genre "dadsploitation" akan apa yang dipertaruhkan seorang ayah demi anak dan keluarga.

Rotten Tomatoes: 78% ulasan positif; sedikit menurun dari 84% film pertama .
Penonton: Skor lebih tinggi, sekitar 89% positif .
Metacritic: Skor rata-rata 59/100
CinemaScore & PostTrak: Mendapat nilai B+ dan rata-rata 4/5 bintang; sekitar 62% penonton merekomendasikan film ini .


Aksi penuh gaya, elemen humor gelap, dan ketegangan yang pas .Odenkirk yang mampu menyampaikan kompleksitas emosional melalui ekspresi wajah, membuat film lebih dari sekadar sekuel aksi biasa .



                                                    SORE Istri Dari Masa Depan




Jonathan, fotografer yang hidup sendiri di Kroasia, menjalani hidup monoton dan acuh pada kesehatannya. Suatu sore, ia didatangi Sore, seorang perempuan misterius yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan datang untuk membantunya memperbaiki gaya hidup dan menemukan makna hidup yang lebih dalam. 

Diadaptasi dari web series tahun 2017, versi layar lebar memperdalam emosi dan visual cerita menyajikan narasi tumbuh kembang dan penyesalan dengan sentuhan fiksi ilmiah dan romansa. Film ini mengambil lokasi di Kroasia (Zagreb & Grožnjan), Finlandia (untuk adegan bersalju), dan Indonesia (untuk momen masa lalu Jonathan), sekaligus memanfaatkan suasana visual yang simbolis akan waktu serta perubahan. 


Sheila Dara Aisha memulai interpretasi baru yang berhasil menghidupkan karakter Sore, termasuk belajar bahasa Kroasia menggantikan peran Tika Bravani dari serial web. Dion Wiyoko kembali sebagai Jonathan, kini tampil lebih dewasa dan reflektif. Chemistry mereka disebut kuat dan meyakinkan. 

Visual memanjakan mata lewat lanskap Eropa salju, langit bersinar, pedesaan eksotis mengusung atmosfer melankolis yang selaras dengan tema waktu dan cinta. 
Hubungan & Keterbukaan: Jonathan menyembunyikan masalah keluarga dari Sore, namun keterbukaan membangun kepercayaan dan pemulihan emosi. 


Sore tidak memaksakan perubahan, melainkan memberikan dukungan sehingga perubahan berasal dari Jonathan sendiri cinta yang tulus, bukan paksaan. Film langsung tren di platform X (Twitter) sejak hari pertama tayang, dengan penonton menyebutnya sebagai absolute cinema tertampar secara emosional oleh kisahnya. 

Visual & Sinema Eksotis & melankolis, syuting lintas benua, Sheila dan Dion tampil kuat, chemistry nyata.Tema : Hubungan, perubahan diri, waktu & penyesalan, Lagu penuh makna yang memperkuat emosi. Penerimaan Penuh apresiasi, kuat di ranah emosional. Istri dari Masa Depan bukan sekadar film cinta cintaan biasa. Ia menawarkan pengalaman sinematik yang emosional dan reflektif. Melalui perpaduan romansa dan fantasi.



Thursday, September 4, 2025

                                                                           Materialists


Lucy Mason bekerja sebagai mak comblang di Agensi Adore, melayani klien klien elit di New York. Meskipun profesional dan sukses, ia tetap lajang percaya akan dua kemungkinan: mati sendiri atau menikah dengan orang kaya. Hidupnya semakin kompleks saat bertemu dua pria berbeda: mantan pacar sederhana, John (Evans), dan seorang miliarder pesona, Harry (Pascal). Kedua pilihan ini memaksa Lucy mempertimbangkan: cinta yang tulus atau kehidupan nyaman penuh materi. 

Terdapat subplot mendalam, seperti tentang klien yang mengalami kekerasan seksual dalam proses pencarian jodoh, yang menambah bobot emosi dan kritik sosial film ini. Di shooting secara elegan dengan format film 35mm oleh Shabier Kirchner, Materialists menampilkan kontras antara gemerlap pesta kota dan kesejukan batin tokohnya. New York digambarkan penuh glamor, namun juga sunyi dan introspektif. 


Tulisan Celine Song menonjol lewat dialog cerdas dan tajam. Beberapa kritik menyebutnya seperti kecerdasan romantis ala Jane Austen sosok dan budaya romantika dikupas dengan santai tapi bersinar. 
Terdapat satir sosial yang menusuk, misalnya saat Lucy berkata kepada klien: "Kamu nggak jelek, kamu cuma nggak punya uang", yang menggambarkan absurditas hubungan romantis di bawah kapitalisme. 

Skor musik digubah oleh Daniel Pemberton, dirilis pada 13 Juni 2025 lewat Milan Records, dilengkapi lagu-lagu oleh Japanese Breakfast dan Baby Rose (seperti My Baby (Got Nothing At All), I'll Be Your Mirror, dan That's All) . Musiknya memperkuat nuansa emosional film secara halus dan berlapis. 


Dakota Johnson: tampil menawan sebagai profesioanal rapuh sekaligus tegas .
Chris Evans: keluar dari citra pahlawan, ia memerankan tokoh hangat, patah hati, dan tulus dengan nuansa kuat disebut sebagai performa terbaiknya di luar karakter Captain America .
Pedro Pascal: personifikasi unicorn pria tampan, mapan, perhatian memberi magnet tersendiri dalam kisah .


Film ini lebih dari sekadar komedi romantis ia membongkar realitas kencan modern yang direduksi oleh logika pasar: cinta menjadi transaksi, ekspektasi cinta menjadi absurd, dan cinta lebih sulit diukur daripada sebelumnya .
Celine Song tidak menyederhanakan konflik: tidak ada pihak jahat atau baik. Baik Harry maupun John memiliki nilai masing-masing, menunjukkan bahwa pilihan cinta adalah soal risiko, kenyamanan, dan nilai yang diturunkan dari latar hidup .






                                                   DRACULA A LOVE TALE


Disutradarai dan ditulis oleh Luc Besson, film ini adalah adaptasi longgar dari novel Dracula karya Bram Stoker.Dibintangi oleh Caleb Landry Jones sebagai Dracula, Christoph Waltz sebagai pastor (Mirip Van Helsing), dan Zoë Bleu sebagai Elisabeta/Mina.Musik digarap oleh Danny Elfman, menciptakan nuansa barok dan romantis khas suasana gotik.Film berdurasi 129 menit, diproduksi dengan anggaran sekitar €40–45 juta, dan dirilis di Prancis pada 30 Juli 2025, kemudian di Indonesia mulai 29 Agustus 2025.

Bermula pada abad ke-15 di Wallachia, Pangeran Vlad (Dracula) kehilangan istrinya, Elisabeta, dalam pertempuran. Dipenuhi duka dan penolakan terhadap Tuhan, ia melakukan perjanjian gelap yang mengubahnya menjadi vampir abadi. Berabad-abad kemudian di London, ia bertemu Mina, sosok wanita yang sangat mirip dengan almarhumah Elisabeta. Obsesi memburu cinta yang hilang ini menjadi konflik utama film, antara cinta dan kutukan abadi .

Akting mendalam oleh Caleb Landry Jones: Menampilkan versi Dracula yang tragis, rapuh, namun obsesif lebih manusiawi daripada makhluk mengerikan. Karakter Christoph Waltz menambah dimensi moral dan spiritual, memberikan nuansa penebusan dan harapan dalam gelapnya cerita vampir .Visual dan atmosfer karya produksi yang kaya: Lokasi bersalju di Finlandia, kastil gotik, detail kostum, tata cahaya, hingga musik Elfman mendukung mood dramatis. Pendekatan baru cerita vampir: Fokus pada cinta, penyesalan, dan kerinduan abadi, bukan sekadar horor tradisional .



Narasi terkesan datar dan repetitif: Beberapa ulasan menyebut storytellingnya kurang mengikat, dengan konflik yang melemah di tengah jalan. Pengembangan karakter minim: Banyak peran minor yang tampak seperti tempelan dan tidak benar-benar berkembang.Pendapat kritis keras dari beberapa pihak: Ada yang menilai film ini seperti fanfiction yang belum matang, tanpa gaya visual yang kuat maupun konsepsi cerita yang tajam .
Alurnya mudah dipahami tapi terasa datar secara emosional .

Cocok untuk penonton yang menyukai drama romantis bertema gothic, bukan horor berdarah. Menawarkan eksplorasi emosi intens, obsesi cinta, penebusan diri, dan kutukan abadi secara visual memikat. Tidak ideal bagi mereka yang mencari action menegangkan atau jumpscare film ini lebih condong ke tragedi operatik dan estetika sinematik .

Akting Intens dan penuh emosi (Jones, Waltz) Peran pendukung kurang mendalam
Visual & Musik Estetika indah, atmosfer mendalamTidak semua set piece terasa berarti
Cerita & Tema Cinta tragis, obsesi, penebusan yang kuatAlur kurang mengejutkan, terasa lamban
Gaya Sutradara Sentuhan unik Luc Besson dengan ElfmanBeberapa anggap tanpa identitas visual.


Dracula: A Love Tale adalah interpretasi romantis dan visual elegan dari cerita vampir klasik cocok bagi kalian yang menyukai kisah cinta abadi dan nuansa gotik yang dramatis. Akting Caleb Landry Jones dan Christoph Waltz menjadi kekuatan utama film ini, sementara elemen visual dan musikal mendukung atmosfir yang mendalam. Namun, film ini bukan tanpa celaalur yang lamban dan kedalaman cerita yang terbatas membuat penonton tertentu merasa kurang puas.

Kalau kamu tertarik dengan versi vampir yang lebih emosional dan atmosferik daripada horror murni, film ini layak jadi pilihan. Tapi jika kamu mengharapkan ketegangan darah dan aksi menegangkan, mungkin ini bukan yang kamu cari.



                                                                           Demon Slayer


Ufotable kembali menunjukkan kualitas kelas atas. Animasi pertarungan dengan 3D dynamic camera, detail efek darah, aura, dan kehancuran kastel luar biasa memanjakan mata.Adegan Kokushibo vs Gyomei & Sanemi disebut-sebut sebagai puncak kualitas visual anime aksi shonen sejauh ini.Musik latar oleh Yuki Kajiura dan Go Shiina emosional dan sinematik, mengangkat tensi pertarungan dan momen emosional.Lagu tema utama bagian pertama berjudul Homura no Uta oleh LiSA lagu ini kembali membawa nuansa nostalgia dan heroisme seperti Gurenge dan Homura sebelumnya

                                                .

Menunjukkan kebangkitan besar melawan Kaigaku—adegan ini sangat ditunggu penggemar manga dan divisualisasikan dengan sangat epik.Kokushibo dan masa lalunya dengan Yoriichi disorot mendalam, membangun lapisan emosional yang jarang didapat dari karakter antagonis.Mitsuri dan Obanai mendapat momen heroik dan menguras air mata yang dieksekusi dengan sangat halus.Gyomei (Stone Hashira) menunjukkan kenapa dia dianggap yang terkuat—fisik, spiritual, dan ketangguhannya menjadi pilar emosi film ini.


Infinity Castle bukan hanya medan perang, tapi ruang batin di mana karakter menghadapi batas kekuatan dan makna hidup mereka.
Fokus pada hubungan antar Hashira dan generasi muda membuat penonton ikut tumbuh bersama para karakter.Jika kamu menyukai adegan emosional seperti Rengoku vs Akaza atau kematian Shinobu, film ini lebih menyakitkan. Akan banyak air mata tertumpah, terutama di bagian kedua dan ketiga.Namun, emosi tidak digunakan berlebihan—selalu dibangun lewat narasi dan konsekuensi pertarungan.Adaptasi sangat setia pada manga (dengan beberapa tambahan memperdalam karakter).












                                                               THE SHADOW EDGE 


                                                          
The Shadow’s Edge adalah film aksi kriminal Hong Kong Tiongkok tahun 2025 yang ditulis dan disutradarai oleh Larry Yang, adaptasi lepas dari Eye in the Sky (2007) karya Yau Nai-hoi .
Dibintangi oleh Jackie Chan sebagai Wong Tak‑Chung, mantan ahli intelijen, yang kembali mengatasi sindikat pencuri teknologi tinggi yang dipimpin oleh Tony Leung Ka Fai sebagai Fu Longsheng alias “Wolf King”.


Pemeran pendukung mencakup generasi muda berbakat seperti Zhang Zifeng (sebagai Ho Qiuguo), Ci Sha, Wen Junhui (Jun dari SEVENTEEN), serta Zhou Zhengjie dan Wang Ziyi .
Berlatar di Makau, film ini mengisahkan kejahatan pencurian kripto dengan teknologi tinggi yang membuat polisi kewalahan. Maka, mereka memanggil kembali Wong Tak‑Chung untuk memburu sindikat yang sangat licin ini.


Wong membentuk tim elit bersama perwira muda Ho Qiuguo dan anak angkatnya, Lian (Wen Junhui), seorang hacker jenius yang, tanpa sadar, menembus sistem kriminal Shadow Order, memicu konflik besar .

Tema utama film ini adalah duel antara metode pengawasan tradisional (Wong) dengan kejahatan masa kini yang memanfaatkan AI dan teknologi pengawasan canggih (seperti “Sky Eye”) .
Adegan penuh energi, koreografi Jackie Chan yang tetap memukau meskipun usianya sudah 71 tahun, menciptakan aksi yang segar dan mendebarkan .
Sutradara Larry Yang piawai menjaga tempo cerita; tidak ada adegan mengendur yang membosankan .

Pertemuan Jackie Chan dan Tony Leung Ka Fai adalah highlight, memberikan daya tarik klasik yang intens dan berkarisma .
Kehadiran Zhang Zifeng dan Wen Junhui memperkaya dinamika generasi baru yang menyatu apik dengan figur veteran, menambah kekuatan emosional cerita .
Dibumbui sisi humor slapstick khas Jackie serta momen hangat ayah-anak yang menyentuh, film ini bukan sekadar thriller aksi, melainkan juga drama emosional yang mengena .
Aksi spionase dan kejar kejaran yang dikomposisikan dengan dramatis membuat film terasa seperti permainan catur antar karakter kuat.


Lokasi pengambilan gambar di berbagai ikonik Makau (seperti Bank of China Macau Branch dan Wynn Macau) memberikan visual yang menarik dan nuansa lokal yang kuat .
Ada post credit scene serta bloopers lucu menambah hiburan ekstra di akhir film .
Durasi panjang (sekitar 2 jam 22 hingga 23 menit) dapat terasa melelahkan bagi sebagian penonton, sebab begitu banyak subplot dan detail yang tak bisa dilewatkan .
Plot penjahat terasa agak dangkal motivasi kurang mendalam dan pengejaran motif yang terasa tidak cukup eksploratif .

Pengembangan hubungan emosional, terutama antara Jackie Chan dan Zhang Zifeng, kurang mendapatkan pay-off yang kuat meskipun pondasinya sudah dibangun .
Sangat direkomendasikan, terutama jika kamu menyukai film aksi Asia dengan campuran seni bela diri, drama emosional, dan intrik teknologi modern. Jackie Chan membuktikan kualitasnya tetap prima, Tony Leung Ka‑Fai menjadi villain yang mengesankan, dan sinematografi Makau menambah nuansa menarik.


Namun, untuk penonton yang sulit mengikuti alur panjang atau mengingat banyak detail, filmnya bisa terasa sedikit melelahkan meski tetap memikat.

The Shadow’s Edge menghadirkan keseimbangan antara nostalgia dan inovasi. Aksi intens Jackie Chan, villain karismatik Tony Leung Ka Fai, dikombinasikan dengan elemen high‑tech, drama humanis, dan setting Macau yang memukau, menciptakan tontonan yang memuaskan penuh ketegangan. Ada beberapa celah naratif, tapi secara keseluruhan, film ini adalah comeback yang keren dan layak ditonton.