Film ini berfokus pada Alin, seorang mahasiswi kedokteran yang beasiswanya terancam dicabut, yang akhirnya harus pulang ke rumah. Di rumahnya, Alin menemukan realita berat keluarga. Ibunya, Wulan, menjadi tulang punggung keluarga, bekerja keras secara fisik dan emosional untuk menopang tiga anak perempuannya, memperbaiki rumah, berdagang, dan menahan tekanan dari situasi ekonomi serta kehadiran ayah yang minim kontribusi. Ayahnya, Tio, jarang hadir, baik secara fisik atau emosional; ada ketidakseimbangan dalam tanggung jawab dalam keluarga.
Yang Pasti saya nonton Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah menyaksikan Perjuangan Empat perempuan yaitu Alin, Anis, Asya dan Ibunya Wulan di keluarga mereka saya ayahnya Tio satu-satunya lelaki di keluarga itu tidak dapat diandalkan seorang suami dan ayah yang pengangguran kerjanya hanya tidur, makan, ngopi & ngerokok gimana tidak di benci oleh anak-anaknya perempuannya Alin, Anis & Asya apalagi Anis paling ekspresif & vocal ke ayahnya & benci banget sama ayahnya karena udah pengangguran & tidak dapat diandalkan. Selain itu film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah bikin emosional banget, bikin terharu & nangis gitu karena ceritanya, perjuangan mereka, pengorbanan Wulan ibunya, apalagi di ending film wah.. puncak emosional & bikin netes air mata.
Wulan sebagai gambaran ibu yang sering kali menyimpan banyak beban sendiri, menghadapi impian yang belum tercapai, serta dilema memilih antara tanggung jawab dan kebahagiaan pribadi. Pertanyaan bagaimana jika menjadi titik refleksi apakah pilihan yang dibuat orang tua (terutama ibu) membentuk nasib anak-anaknya? Apakah ada ruang untuk kebahagiaan alternatif?





No comments:
Post a Comment